Klik www.facebook.com/pelimamedia dan sertai kami dengan menghantar foto terbaik anda disertai mesej yang kreatif. Menangi wang tunai sebanyak RM 100!!
Hantar Karya Anda
Sekiranya anda mempunyai bakat dalam bidang penulisan, jangan sia-siakannya. Pelima Media amat berbesar hati menjemput anda menyertai kami dan menerbitkan karya yang menepati dasar editorial Pelima Media.Ayuh segera hubungi kami dan cipta nama anda sebagai penulis dengan kami.
Peluang Jana Pendapatan Tambahan
Anda berpeluang nikmati potongan hebat mengikut kuantiti buku yang diambil. Boleh daftar segera sebagai pengedar Pelima Media.
Diskaun buku dengan pembelian secara online
Layari www.pelima.com.my/media dan nikmati diskaun sebanyak 20% bermula 17 Januari 2011
Sumbu Jiwa berwajah baru
Sumbu jiwa dilengkabi bacaan surah-surah amalan bacaan Syeikh al-Misyary beserta bacaan terjemahan Bahasa Melayu oleh Tuan Nasran Hassan
Harga : RM 44.00 Mukasurat : 295 Terbitan : Pelima Media Sdn Bhd
Kitab al-Arba'in fi Ushul ad-Din Merupakan karya agung Imam al-Ghazali selepas Ihya' Ulumiddin.
Hidayah Allah merupakan sumber kebaikan, keamanan, kesejahteraan hidup di dunia dan akhirat. Tanpa hidayah, malang dan meranalah insan kerana terpisah dan terpinggir dari jalan kebenaran. Hidayah perlu dijemput untuk diraih dan dipelihara dengan perjuangan yang sungguh-sungguh, iltizam yang tiada terkalahkan. Firman Allah :
" Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keredaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Sesungguhnya, Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik. "
al-Ankabut : 69
Isi kandungan :
Bahagian Pertama : 10 Prinsip Ilmu
Prinsip pertama : Zat
Prinsip kedua : Penyucian
Prinsip ketiga : Kuasa
Prinsip keempat : Ilmu
Prinsip kelima : Kehendak
Prinsip keenam : Maha Mendengar dan Maha Melihat
Prinsip ketujuh : Maha berfirman
Prinsip kelapan : Tentang Perbuatan-perbuatan
Prinsip kesembilan : Hari Akhirat
Prinsip kesepuluh : Kenabian
Tentang kitab-kitab yang dianjurkan untuk dipelajari berkenaan akidah
Bahagian Kedua : 10 Prinsip Amal Lahiriah
Prinsip pertama : Solat
Prinsip kedua : Zakat dan Sedekah
Prinsip ketiga : Puasa
Prinsip keempat Haji
Prinsip kelima : Membaca al-Quran
Prinsip keenam : Berzikir kepada Allah Stiap Masa
Prinsip ketujuh : Mencari (rezeki) yang Halal
Prinsip kelapan : Menegakkan Hak-hak Kaum Muslim dan Pergaulan Baik dengan Mereka
Prinsip kesembilan : Amr bil-Makruf dan Nayl anil-Munkar
Prinsip kesepuluh : Mengikut Sunnah
Penutup : Tentang Urutan Wirid dan Memerhatikan Sepuluh Masalah
Bahagian Ketiga : Membersihkan Hati dari Akhlak yang Tercela
Prinsip pertama : Banyak Makan
Prinsip kedua : Banyak Berbicara
Prinsip ketiga : Marah
Prinsip keempat : Hasad
Prinsip kelima : Kedekut dan Mencintai Harta
Prinsip keenam : Gila Pangkat
Prinsip ketujuh : Cinta Dunia
Prinsip kelapan : Sombong
Prinsip kesembilan Bangga Diri
Prinsip kesepuluh : Riya
Penutup Tentang Seluruh Akhlak dan Tempat-tempat penipuan di dalamnya
Bahagian Keempat : Tentang 10 Prinsip Akhlak Terpuji
Prinsip pertama : Taubat
Prinsip kedua : Khauf (takut)
Prinsip ketiga : Zuhud
Prinsip keempat : Sabar
Prinsip kelima : Syukur
Prinsip keenam : Ikhlas dan Benar
Prinsip ketujuh : Tawakal
Prinsip kelapan : Cinta
Prinsip kesembilan : Reda dengan Ketentuan Allah
Prinsip kesepuluh : Mengingati Mati dan Hakikatnya serta Bahagian-bahagian yang Bersifat Rohaniah
Sesi fotografi berlatarbelakangkan salah satu pemandangan di Turki
Pertandingan menjawab kuiz
Banyak lagi
Diskaun : Sehingga 25%
Sebarkan info ini pada kenalan dan teman-teman serta singgah ke booth kami untuk dapatkan hadiah percuma ikhlas daripada Pelima Media sebagai tanda penghargaan kami buat anda.
Seorang insan yang kaya dengan senyuman di bibir. Penuh kesopanan dan sentiasa menjaga tatatertib ketika berbicara. Kelembutan terserlah melalui bahasa yang disampaikan.
Itulah dia Tuan Abdul Shahiid Shafruddin yang dilahirkan di Leeds, United Kingdom pada 26 Mei 1985.
Beliau mendapat pendidikan awal di Sekolah Rendah Islam Al-Amin, Bangi dan menyambung pendidikan di peringkat menengah di Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, Indonesia. Seterusnya, beliau menyambung pengajiannya di peringkat lebih tinggi di Universiti Al-Azhar, Kaherah Mesir dalam Jurusan Pengajian Am, Fakulti Bahasa Arab.
Setelah tamat pengajian, beliau pulang ke tanahair dan berjaya menghasilkan sebuah penulisan yang menarik dan bisa membawa masyarakat kepada sebuah kesedaran bahawa al-Fatihah itu sungguh luas maknanya berbanding dengan yang kita semua sedia maklum selama ini.
Sama-sama kita hayati sebuah surah pendek dan mudah iaitu al-Fatihah dengan mendapatkan buku beliau bermula dari Pesta Buku Antarabangsa Kuala Lumpur 2010 nanti.
Malah, bagi mereka yang berminat untuk bertemu dengan penulis secara peribadi, boleh lawati kami di booth LP G03 bersebelahan Bilik Kedah, PWTC.
Lokasi booth Pelima Media telah bertukar ke Dewan Tun Hussein Onn bersebelahan Bilik Kedah - G03 (sila rujuk imej di bawah)
Klik imej untuk pembesaran
Nama booth Pelima Media adalah Sufi Cube. Selamat datang ke Sufi Cube 2010! Destinasi wajib kunjung! ( Dapatkan penanda buku percuma. sementara stok masih ada )
Terdapat pelbagai jualan menarik di booth Pelima Media :
Buku-buku ( Terdapat 6 judul buku baru )
Kitab-kitab Tasawwuf
Poster-poster Islami
CD audio Qasidah
Badge Islami
Sessi fotografi berlatarbelakangkan salah satu pemandangan di Negara Turki
Nantikan update kami seterusnya mengenai promosi sempena Pesta Buku Antarabangsa Kuala Lumpur 2010!
Jika kita mengetahui bahwa dunia ini selalu bergerak menuju kegagalan dan kebinasaan, dan mengetahui bahwa manusia juga akan lenyap, meninggal dunia, tetapi masih saja tidak percaya – karena kita baru mencapai tingkatan membaca bukan merasa. Ada perbedaan yang penting antara “Pengetahuan Kertas” dan “Pengetahuan Rasa”. Pada secarik kertas tertulis “Ini adalah air”. Tetapi dengan membaca tulisan itu, kalian tidak bisa merasakan air tersebut. Kemungkinan lainnya adalah ketika kalian ada pada tingkatan rasa, kalian diberi air dan disuruh untuk merasakannya. Kalian ambil air itu, kalian cicipi air itu, merasakan manisnya dan rasa haus kalianpun terpuaskan. Karena Pengetahuan Kertas gagal sepenuhnya untuk menyampaikan rasa air tersebut, maka dengan cara yang sama iapun gagal untuk menyampaikan tentang rasa kematian. Kita membaca dan mendengar tentang kematian tetapi gagal sepenuhnya untuk mempercayainya hingga kita merasakannya sendiri. Dengan kepercayaan yang sesungguhnya, dikehidupan ini kita mencicipi kematian, merasakan kematian, bahkan mungkin merasakan manisnya. Malaikat Maut, Izrail, mungkin datang dengan belas kasih atau mungkin pula datang dengan azab atau hukuman.
“Hisablah dirimu sendiri sebelum kalian dihisab oleh Allah SWT.” Jika kalian menyadari berbuat salah, segeralah bertobat. Karena itulah mengapa rasa itu sangat penting. Bila kita tidak perduli, maka ketika meninggalkan tempat ibadah ini akan melupakan pesan-pesan yang telah kita dengar disini. Para orang saleh/wali tidak lupa. Mereka tidak takut. Mereka duduk dan merenung atau tafakur, mengingat Allah SWT. Rabia,duduk disudut ruangannya untuk bertobat. Orang-orang berkata padanya, “Aduh Rabia, kamu telah bertobat!” Dia berkata, “Aku harus tetap mengatakan ‘Ampuni aku, Ya Allah, aku berlindung hanya kepada-Mu.’Karena setiap kali aku mengatakan itu, maka diperlukan satu kalimat itu lagi untuk menutupi kalimat yang sebelumnya.” Rahmat Nabi SAW adalah sebuah rujukan pada ayat dalam Al Qur’an, “Kami tidak mengutusmu melainkan sebagai rahmat bagi dunia.”Allah mengutus beliau untuk menyelamatkan kita. Dan bantuan atau perantaraannya adalah sebagimana yang dikatakan Nabi SAW, “… untuk orang-orang yang berdosa besar dari umatku.” Beliau berkata beliau akan menjadi perantara untuk mereka dengan pengetahuan atas kelemahan mereka. Kita tidak bisa mencapai apa yang orang-orang saleh/para wali ingin kita mencapainya – dan itu menunjukan kelemahan kita.
Dan Sesungguhnya akan kami berikan ujian kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “inna lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.
(QS. Al-Baqarah [2]: 155-157).
Awan kelam kembali menyelimuti negeri ini. Musibah demi musibah terus melanda negeri ini setelah sebelumnya Gempa yang terjadi di Jawa Barat. Di akhir bulan September, masyarakat Padang, Sumatera Barat kembali dikejutkan dengan peristiwa gempa bumi sebesar 7,6 SR tepat pukul 17.16 WIB. Musibah yang tidak diduga-duga sebelumnya ini telah membawa korban jiwa beratusan orang. Belum lagi trauma serta bangunan rumah yang rata dengan tanah dialami oleh ratusan ribu masyarakat Padang.
Bagaimana kita menyikapi semua peristiwa alam ini? Apakah ini merupakan azab dari Allah SWT atau ini merupakan ujian dari Allah? Ataukah fenomena ini sekadar musibah yang menjadi ujian bagi umat manusia? Atau justru malapetaka? Sebagai muslim tentunya kita patut membuka kembali ajaran kita yang mulia ini untuk memandang berbagai fenomena alam yang menimpa kita dengan pandangan Al Quran dan Sunnah.
Azab atau Ujian ?
Bencana gempa yang menimpa kita bukanlah merupakan azab yang diberikan oleh Allah kepada kita, seperti pemahaman yang terjadi pada sebahagian umat Islam. Mengapa ini bukan azab? Tidak lain kerana pasca diutusnya Nabi Muhammad SAW, azab bagi seluruh umatnya yang melakukan kemaksiatan akan ditunda sampai Hari Akhirat. Rasulullah SAW diutus oleh Allah sebagai rahmat seluruh alam, dalam firmannya Allah menyatakan: Dan tiadalah kami mengutus kamu (baca: Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (QS. al-Anbiya [21]: 107). Rahmat ini tidak saja berlaku bagi umat muslim tapi juga berlaku bagi orang-orang kafir. Dengan demikian orang-orang kafir pun azabnya akan ditunda hingga hari kiamat.
Berbeda dengan umat-umat sebelumnya, dimana umat-umat terdahulu sebagaimana disebutkan Allah dalam surat At-Taubah [9] ayat 70: Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan (penduduk) negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata; maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.
Umat-umat terdahulu langsung diazab manakala kufur kepada Rasul. Sedangkan umat Nabi Muhammad yang kufur atau bermaksiat pada Allah tidak langsung diazab melainkan ditunda hingga akhir kiamat. Sebagaimana Rasul menyebutkan dalam hadisnya: “Hari ini yang ada adalah amal dan tiada hisab, sedangkan hari esok (hari akhir) yang ada adalah hisab dan tiada amal” (HR. Bukhari). Dengan demikian jelaslah bahwa perhitungan (hisab) berupa adzab itu di akhirat kelak.
Bencana alam merupakan sunatullah di alam dan karakteristik yang diciptakan Allah SWT. Gempa yang terjadi mengikuti hukum sebab akibat. Musibah ini merupakan ujian bagi kita sebagaimana surat Al-Baqarah [2]: 155-157 diatas Allah berfirman: Dan Sesungguhnya akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.
Dalam hadits yang lain, Rasulullah, melalui cucu lelaki sahabat Abdullah bin Mas’ud, Awn bin Abdullah mengatakan: “Nikmat yang terbesar adalah ketika bumi diratakan untuk anda, anda tetap menghargai apa yang telah diberikan Allah kepada anda berupa nikmat Islam.” Maka ketika pada saat ini kita mengalami kesulitan harta akibat musibah ini maka kita akan penuh dengan syukur memperingati kekayaan iman yang telah Allah kurniakan kepada kita dan kita akan merasa sanagat beruntung dengan diri anda sebagai muslim. Bencana gempa ini merupakan ujian sekaligus kurnia yang harus kita sikapi dengan sabar karena di balik semua ini ada hikmah yang dalam.
Fikh Kerahsiaan WanitaJalan Pintas Meraih Hidayah 40 Prinsip AgamaAl-Quran Berbicara Tentang Takwa
Al-Fatihah : Menyusun Struktur dan Perasaan InsanTravelog Turki Bumi Khalifah