memaknai musibah


>

Dan Sesungguhnya akan kami berikan ujian kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “inna lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

(QS. Al-Baqarah [2]: 155-157).

Awan kelam kembali menyelimuti negeri ini. Musibah demi musibah terus melanda negeri ini setelah sebelumnya Gempa yang terjadi di Jawa Barat. Di akhir bulan September, masyarakat Padang, Sumatera Barat kembali dikejutkan dengan peristiwa gempa bumi sebesar 7,6 SR tepat pukul 17.16 WIB. Musibah yang tidak diduga-duga sebelumnya ini telah membawa korban jiwa beratusan orang. Belum lagi trauma serta bangunan rumah yang rata dengan tanah dialami oleh ratusan ribu masyarakat Padang.

Bagaimana kita menyikapi semua peristiwa alam ini? Apakah ini merupakan azab dari Allah SWT atau ini merupakan ujian dari Allah? Ataukah fenomena ini sekadar musibah yang menjadi ujian bagi umat manusia? Atau justru malapetaka? Sebagai muslim tentunya kita patut membuka kembali ajaran kita yang mulia ini untuk memandang berbagai fenomena alam yang menimpa kita dengan pandangan Al Quran dan Sunnah.

Azab atau Ujian ?

Bencana gempa yang menimpa kita bukanlah merupakan azab yang diberikan oleh Allah kepada kita, seperti pemahaman yang terjadi pada sebahagian umat Islam. Mengapa ini bukan azab? Tidak lain kerana pasca diutusnya Nabi Muhammad SAW, azab bagi seluruh umatnya yang melakukan kemaksiatan akan ditunda sampai Hari Akhirat. Rasulullah SAW diutus oleh Allah sebagai rahmat seluruh alam, dalam firmannya Allah menyatakan: Dan tiadalah kami mengutus kamu (baca: Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (QS. al-Anbiya [21]: 107). Rahmat ini tidak saja berlaku bagi umat muslim tapi juga berlaku bagi orang-orang kafir. Dengan demikian orang-orang kafir pun azabnya akan ditunda hingga hari kiamat.

Berbeda dengan umat-umat sebelumnya, dimana umat-umat terdahulu sebagaimana disebutkan Allah dalam surat At-Taubah [9] ayat 70: Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, ‘Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan (penduduk) negeri-negeri yang telah musnah? Telah datang kepada mereka rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata; maka Allah tidaklah sekali-kali menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.

Umat-umat terdahulu langsung diazab manakala kufur kepada Rasul. Sedangkan umat Nabi Muhammad yang kufur atau bermaksiat pada Allah tidak langsung diazab melainkan ditunda hingga akhir kiamat. Sebagaimana Rasul menyebutkan dalam hadisnya: “Hari ini yang ada adalah amal dan tiada hisab, sedangkan hari esok (hari akhir) yang ada adalah hisab dan tiada amal” (HR. Bukhari). Dengan demikian jelaslah bahwa perhitungan (hisab) berupa adzab itu di akhirat kelak.

Bencana alam merupakan sunatullah di alam dan karakteristik yang diciptakan Allah SWT. Gempa yang terjadi mengikuti hukum sebab akibat. Musibah ini merupakan ujian bagi kita sebagaimana surat Al-Baqarah [2]: 155-157 diatas Allah berfirman: Dan Sesungguhnya akan kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan, “Inna lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun” Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.

Dalam hadits yang lain, Rasulullah, melalui cucu lelaki sahabat Abdullah bin Mas’ud, Awn bin Abdullah mengatakan: “Nikmat yang terbesar adalah ketika bumi diratakan untuk anda, anda tetap menghargai apa yang telah diberikan Allah kepada anda berupa nikmat Islam.” Maka ketika pada saat ini kita mengalami kesulitan harta akibat musibah ini maka kita akan penuh dengan syukur memperingati kekayaan iman yang telah Allah kurniakan kepada kita dan kita akan merasa sanagat beruntung dengan diri anda sebagai muslim. Bencana gempa ini merupakan ujian sekaligus kurnia yang harus kita sikapi dengan sabar karena di balik semua ini ada hikmah yang dalam.




0 comments:

Post a Comment